Entri Populer

Selasa, 15 Februari 2011

PENINGGALAN ZAMAN PURBA


Manusia Purba Museum adalah museum prasejarah kecil dengan koleksi signifikan artefak prasejarah dan tulang manusia prasejarah's. Museum unik ini terletak di ujung barat Bali, di Gilimanuk, Kabupaten Jembrana. Koleksi museum ini rumah tulang prasejarah dan artefak yang ditemukan oleh RP Soejoeno Bali Arkeologi Layanan selama penggalian besar pada tahun 1962, di desa Cekik, di mana museum akhirnya berada.
situs Cekik adalah salah satu necropolises terbesar ditemukan di Indonesia. Dalam situs ini, para arkeolog menemukan berbagai artefak seperti perhiasan, peralatan perunggu, manik-manik kaca, gerabah dan sarkofagus, 100 lengkap prasejarah kerangka manusia dewasa juga ditemukan di sebuah kuburan kuno di daerah ini penggalian.
Artefak dan tulang-tulang yang ditemukan di lokasi penggalian Cekik yang dipamerkan dalam museum ini dalam tampilan sederhana. Balerina prima dari museum ini adalah dua sarcophaguses yang membentuk satu set jar penguburan ganda, itu adalah sistem pemakaman yang unik di mana tabung kedua berisi kerangka dalam posisi manusia yang tangannya diikat di belakang, yang menyatakan bahwa orang ini malang itu dikubur hidup-hidup bertentangan dengan keinginannya untuk menemani orang meninggal dalam sarkofagus pertama.
Manusia Purba Museum of Gilimanuk rumah koleksi lengkap peradaban awal di pulau ini yang memberikan informasi yang berguna pada kehidupan dan budaya penduduk kuno dari surga terakhir; koleksi megah dan penting bagi sebuah museum kecil dan sederhana yang sering diketahui oleh orang Bali dan para pengunjung. Ini patut dikunjungi tapi tidak tahu itu ada.

FOSIL MANUSIA PURBA
Secara umum penemuan fosil manusia dari jaman ke zaman terbagi atas tiga kelompok, yaitu manusia kera, manusia purba dan manusia modern.
Yang perlu diingat adalah bahwa teori ini hanya dugaan dan tidak terbukti kebenarannya karena teori evolusi telah runtuh. Fosil manusia lama yang ditemukan bisa saja bukan fosil manusia atau manusia yang memiliki bentuk ciri tubuh yang unik, atau bahkan hasil rekayasa.


KOMPUTER JAMAN PURBA

Pada 1901, para penyelam Yunani di perairan pulau Antikythera (dibaca: Andikithira, juga dikenal dengan nama: Cerigotto, Sijiljo atau Stus) menemukan sebuah benda peninggalan dari sebuah puing-puing di dasar laut dengan bentuk seperti sebuah jam beker yang berusia paling tidak 2.000 tahun lalu. Penelitian lebih mendalam kemudian oleh Derek J. De Solla Price, menunjukkan bahwa mekanisme benda ini adalah seperti yang kini digunakan sebagai komputer (mesin hitung) untuk mengukur pergerakan bintang-bintang dan planet-planet.
Dalam Scientific American, De Solla juga mengingatkan kembali tentang penemuan sebuah alat hitung kalender beroda gigi dari kebudayaan Islam abad ke-13 yang tersimpan di Museum Sejarah Iptek, Oxford. Konsep kerjanya seperti yang telah ditulis oleh ahli astronomi, Al Biruni pada 1.000 M. Peralatan yang dibuat oleh peradaban Islam itu lebih sederhana daripada mekanisme Antikythera namun memperlihatkan banyak kesamaan pokok detil teknis yang digunakan diantara keduanya. Dari ini tampaknya peradaban Antikythera seolah-olah telah lenyap dari kita namun muncul dan dipahami oleh orang-orang Arab (Islam). Hingga lalu masuk ke peradaban Eropa pada abad pertengahan menjadi dasar teknologi jam modern?. Mekanis Antikythera ini kini disimpan di Museum Arkeologi Nasional, Athena (Yunani).(Discovery channel)




GOA ALAM YANG MERUPAKAN PENINGGALAN ZAMAN PURBA
Terdapat goa alam yang merupakan peninggalan zaman purba, sumber air panas yang mengandung belerang tanpa kadar garam di Pulau Misowaar, goa dalam air dengan kedalaman 100 feet di Tanjung Mangguar. Sejumlah peninggalan dari abad 18 masih bisa dijumpai pada beberapa tempat seperti di Wendesi, Wasior, dan Yomber. Umat Kristiani banyak yang berkunjung ke gereja di desa Yende (Pulau Roon), hanya untuk melihat kitab suci terbitan tahun 1898.
Konon katanya, pada awal revolusi industri di daratan Eropa, pada pertengahan abad 18 , orang Eropa terutama Belanda semakin giat mengadakan penyelidikan tentang pertambangan mineral di Indonesia untuk memenuhi kebutuhan yang sangat tinggi. Dari hasil penyelidikan, maka banyak ditemukan benda-benda penting seperti batuan, mineral dan bahkan fosil tua yang bisa mengungkap peradaban manusia di Indonesia pada masa dulu. Sehingga dibangunlah sebuah gedung pada tahun 1928 untuk menyimpan hasil penelitian tersebut.

Disinilah rupanya tersimpan hasil penemuan para arkeolog menympan temuan berharganya seperti jejak evolusi mamalia yang hidup pada jamam Tersier, Kuarter hingga sekarang terekam dengan baik di Museum Geologi. Terkagum-kagum kami ketika melihat begitu banyak fosil binatang puba disini. Gajah Raksasa dengan gading yang begitu besar dan panjang, Kerbau Purba yang memiliki tanduk lebih besar daripada yang dimiliki kerbau sekarang yang pernah kita lihat. Bahkan benak kami dibawa ke masa silam ketika melihat koleksi tengkorak manusia purba yang ditemukan di Indonesia yang diberinama Homo Erectus itu. Masih banyak lagi temuan-temuan fosil dari desa Trinil dan Mojokerto Jawa Timur.

 ZAMAN BATU
Zaman Batu terjadi sebelum logam dikenal dan alat-alat kebudayaan terutama dibuat dari batu di samping kayu dan tulang. Zaman batu ini dapat dibagi lagi atas:
a.            Zaman batu tua (Paleolitikum)
Zaman batu tua (palaeolitikum), Disebut demikian sebab alat-alat batu buatan manusia masih dikerjakan secara kasar, tidak diasah atau dipolis. Apabila dilihat dari sudut mata pencariannya periode ini disebut masa berburu dan meramu makanan tingkat sederhana. Pendukung kebudayaan ini adalah Homo Erectus yang terdiri.
b.            Zaman batu tengah (mesolitikum)
Pada Zaman batu tengah (mesolitikum),alat-alat batu zaman ini sebagian sudah dihaluskan terutama bagian yang dipergunakan. Tembikar juga sudah dikenal. Periode ini juga disebut masaber buru dan meramu makanan tingkat lanjut. Pendukung kebudayaan ini adalah homo sapiens (manusia sekarang), yaitu ras Austromelanosoide (mayoritas) dan Mongoloide (minoritas).
c.            Zaman batu baru (Neolitikum)
Alat-alat batu buatan manusia Zaman batu baru (Neolithicum)sudah diasah atau dipolis sehingga halus dan indah. Di samping tembikar tenun dan batik juga sudah dikenal. Periode ini disebut masa bercocok tanam. Pendukung kebudayaan ini adalah homo sapiens dengan ras Mongoloide (mayoritas) dan ras Austromelanosoide (minoritas).
 ZAMAN LOGAM
Pada zaman Logam orang sudah dapat membuat alat-alat dari logam di samping alat-alat dari batu. Orang sudah mengenal teknik melebur logam, mencetaknya menjadi alat-alat yang diinginkannya. Teknik pembuatan alat logam ada dua macam, yaitu dengan cetakan batu yang disebut bivalve dan dengan cetakan tanah liat dan lilin yang disebut acire perdue. Periode ini juga disebut masa perundagian karena dalam masyarakat timbul golongan undagi yang terampil melakukan pekerjaan tangan. Zaman logam ini dibagi atas:
a.            Zaman tembaga
Orang menggunakan tembaga sebagai alat kebudayaan. Alat kebudayaan ini hanya dikenal di beberapa bagian dunia saja. Di AsiaTenggara (termasuk Indonesia) tidak dikenal istilah zaman tembaga.
b.            Zaman perunggu
Pada zaman ini orang sudah dapat mencampur tembaga dengan timah dengan perbandingan 3 : 10 sehingga diperoleh logam yang lebih keras.
c.            Zaman besi
Pada zaman ini orang sudah dapat melebur besi dari bijinya untuk dituang menjadi alat-alat yang diperlukan. Teknik peleburan besi lebih sulit dari teknik peleburan tembaga maupun perunggu sebab melebur besi membutuhkan panas yang sangat tinggi, yaitu ±3500 °C.
Zaman logam di Indonesia didominasi oleh alat-alat dari perunggu sehingga zaman logam juga disebut zaman perunggu. Alat-alat besi yang ditemukan pada zaman logam jumlahnya sedikit dan bentuknya seperti alat-alat perunggu, sebab kebanyakan alat-alat besi, ditemukan padazaman sejarah.
Antara zaman neolithicum dan zaman logam telah berkembang kebudayaan megalithicum, yaitu kebudayaan yang menggunakan media batu-batu besar sebagai alatnya, bahkan puncak kebudayaan megalithicum justru pada zaman logam.
 Berdasarkan porses geologi terbentuknya pulau Papua yang baru terbentuk sekitar 60 juta tahun yang lalu, maka sudah tentu bahwa belum adanya homo sapiens (Manusia) yang menempati pulau Papua zaman Pleotosen karena proses terbentuknya pulauPapua bersamaan pada zaman Neozoikum. Sedangkan pada Zaman Pleitosen (zaman manusia purba), Papua masih belum diduduki oleh manusia purba sehingga tidak ditemukan fosil manusia purba seperti penemuan fosil manusia purba di Mojokerto dan Solo dipulau Jawa.
Pithecanthropus Erectus (phitecos = kera, Antropus Manusia, Erectus = berjalan tegak) ditemukan di daerah Trinil, pinggir Bengawan Solo, dekat Ngawi,tahun 1891. Penemuan ini sangat menggemparkan dunia ilmu pengetahuan.[2]
  • Pithecanthropus Majokertensis, ditemukan di daerah Mojokerto.
  • Pithecanthropus Soloensis, ditemukan di daerah Solo.
osil Tengkorak Manusia Jawa (Pithecanthropus Erectus) yang ditemukan di Solo
Peninggalan arkeolog yang ditemukandi tepi danau sentani – Jayapura berupa Kapak Batu yang berbentuk lonjong merupakan bukti sejarah bahwa orang Papua hanya berada pada zaman Batu Muda (Neolitikum).
Kapak Batu pada Zaman Neolitikum yang ditemukan di Danau Sentani

Sedangkan zaman purba di Jawa mulai berada pada zaman Batu Tua (Paleolitikum). Perbedaan signifikan ini sangat jelas sehingga dapat dibedakan zaman Prasejarah di Papua dan Indonesia serta dapat ditarik kesimpulan mengenai klaim Majapahit yang tidak memiliki bukti sejarah berupa Candi di Papua.
Kapak Batu pada Zaman Paleolitikum  yang ditemukan di Jawa

2 komentar: