BENTUK-BENTUK KETIDAKADILAN GENDER
Pengertian ketidakadilan gender
• Ketidakadilan gender :
Berbagai tindak ketidakadilan atau diskriminasi yang bersumber pada keyakinan gender.
• Diskriminasi berarti :
Setiap pembedaan, pengucilan, atau pembatasan yang dibuat atas dasar jenis kelamin, yang mempunyai tujuan mengurangi atau menghapus pengakuan, penikmatan atau penggunaan hak-hak asasi manusia dan kebebasan-kebebasan pokok di bidang politik, ekonomi, dll oleh perempuan, terlepas dari status perkawinan mereka, atas dasar persamaan antara perempuan dan laki-laki.
Ketidakadilan Gender terjadi di:
• Negara • Tempat kerja
• Masyarakat • Budaya/keyakinan
• Rumahtangga • Keyakinan pribadi
Keyakinan Gender
|
Bentuk Ketidakadilan
Gender
|
Perempuan: lembut dan bersifat emosional
|
Tidak boleh menjadi manajer atau pemimpin sebuah institusi
|
Perempuan: pekerjaan utamanya di rumah dan kalau bekerja hanya membantu suami (tambahan)
|
Dibayar lebih rendah dan tidak perlu kedudukan yang tinggi/penting
|
Lelaki: berwatak tegas dan rasional
|
Cocok menjadi pemimpin dan tidak pantas kerja di rumah dan memasak
|
Bentuk-Bentuk Ketidakadilan Gender
![]() |
![]() | |||
![]() | |||
Marjinalisasi Atau Pemiskinan
Marjinalisasi artinya : suatu proses peminggiran akibat perbedaan jenis kelamin yang mengakibatkan kemiskinan.
Banyak cara yang dapat digunakan untuk memarjinalkan seseorang atau kelompok. Salah satunya adalah dengan menggunakan asumsi gender. Misalnya dengan anggapan bahwa perempuan berfungsi sebagai pencari nafkah tambahan, maka ketika mereka bekerja diluar rumah (sector public), seringkali
dinilai dengan anggapan tersebut. Jika hal tersebut terjadi, maka sebenarnya telah berlangsung proses pemiskinan dengan alasan gender.
• Suatu proses penyisihan yang mengakibatkan kemiskinan bagi perempuan atau laki-laki
• Bentuknya macam-macam:
- Terpinggirkannya karier perempuan untuk menjadi pimpinan, promosi atau pendidikan lanjut karena dianggap tdk sesuai jadi pimpinan
- Perempuan tidak perlu pendidikan tinggi karena akhirnya nanti juga ke dapur
- Pada laki-laki, adanya anggapan bahwa mereka sebagai penyangga ekonomi keluarga, akibatnya banyak yang drop-out krn harus bekerja
Subordinasi Atau Penomorduaan
• Sikap atau tindakan masyarakat yang menempatkan perempuan pada posisi yang lebih rendah
dibanding laki-laki
• dibangun atas dasar keyakinan satu jenis kelamin dianggap lebih penting atau lebih utama dibanding
yang lain
• Bentuknya macam-macam:
- Perempuan sebagai konco wingking
- Perempuan lebih dikalahkan dari laki-laki dalam pendidikan oleh keluarganya
- Perempuan dianggap tidak cocok untuk berbagai pekerjaan
- Mengurus rumahtangga dianggap sebagai kodrat perempuan, dll
Stereotype Atau Pelabelan Negatif
• Suatu sikap negatif masyarakat terhadap perempuan yang membuat posisi perempuan selalu pada
pihak yang dirugikan
Semua bentuk ketidakadilan gender diatas sebenarnya berpangkal pada satu sumber kekeliruan yang sama, yaitu stereotype gender laki-laki dan perempuan.
Stereotype itu sendiri berarti pemberian citra baku atau label/cap kepada seseorang atau kelompok yang didasarkan pada suatu anggapan yang salah atau sesat.
Pelabelan umumnya dilakukan dalam dua hubungan atau lebih dan seringkali digunakan sebagai alasan untuk membenarkan suatu tindakan dari satu kelompok atas kelompok lainnya.
Pelabelan juga menunjukkan adanya relasi kekuasaan yang timpang atau tidak seimbang yang
bertujuan untuk menaklukkan atau menguasai pihak lain.
Pelabelan negative juga dapat dilakukan atas dasar anggapan gender. Namun seringkali
pelabelan negative ditimpakan kepada perempuan.
• Bentuknya macam-macam:
- Prempuan bersolek dianggap memancing perhatian lawan jenis, shg jk terjadi pelecehan seksual maka perempuan yang disalahkan
- Bayi perempuan diberi warna pink (feminim) dan lakilaki warna biru (maskulin) dll
- Perempuan perayu, mudah selingkuh
- Perempuan dianggap cengeng, suka digoda.
- Perempuan tidak rasional, emosional.
- Perempuan tidak bisa mengambil keputusan penting.
- Perempuan sebagai ibu rumah tangga dan pencari nafkah tambahan.
- Laki-laki sebagai pencari nafkah utama.
Violence Atau Kekerasan Terhadap Perempuan
Segala bentuk kekerasan yang akibatnya berupa kerusakan atau penderitaan fisik, seksual, psikologis pada perempuan termasuk ancaman-ancaman dari perbuatan semacam itu, seprti paksaan atau perampasan yang semena-mena atas kemerdekaan, baik yang terjadi di tempat umum atau di dalam kehidupan pribadi seseorang.
salah satu jenis kelamin atau sebuah institusi keluarga, masyarakat atau negara terhadap jenis kelamin lainnya.
Peran gender telah membedakan karakter perempuan dan laki-laki. Perempuan dianggap feminism dan laki-laki maskulin. Karakter ini kemudian mewujud dalam ciri-ciri psikologis,
seperti laki-laki dianggap gagah, kuat, berani dan sebagainya. Sebaliknya perempuan dianggap lembut, lemah, penurut dan sebagainya.
Sebenarnya tidak ada yang salah dengan pembedaan itu. Namun ternyata pembedaan karakter tersebut melahirkan tindakan kekerasan. Dengan anggapan bahwa perempuan itu lemah, itu diartikan sebagai alasan untuk diperlakukan semena-mena, berupa tindakan kekerasan.
Kekerasan dalam rumah tangga meliputi:
1. Kekerasan fisik 3. Kekerasan ekonomi
2. Kekerasan psikologis 4. Kekerasan seksual
UU No 23 tahun 2004 tentang perlindungan terhadap KDRT
Korban Dan Pelaku Kdrt
• Korban: - istri 75 % • Pelaku _laki-laki :
- anak-anak 23,1 % - anak laki-laki
- ayah - mertua
- paman - majikan, dl
- suami
Double Burden atau Beban Ganda
Beban ganda (double burden) artinya beban pekerjaan yang diterima salah satu jenis kelamin lebih banyak dibandingkan jenis kelamin lainnya.
Peran reproduksi perempuan seringkali dianggap peran yang statis dan permanen. Walaupun sudah ada peningkatan jumlah perempuan yang bekerja diwilayah public, namun tidak diiring dengan berkurangnya beban mereka di wilayah domestic. Upaya maksimal yang dilakukan mereka adalah mensubstitusikan pekerjaan tersebut kepada perempuan lain, seperti pembantu rumah tangga atau anggota keluarga perempuan lainnya. Namun demikian, tanggung jawabnya masih tetap berada di pundak perempuan. Akibatnya mereka mengalami beban yang berlipat ganda.
• Pembagian tugas dan tanggung jawab yang selalu memberatkan perempuan
• Jumlah jam kerja wanita untuk keg reproduksi dan produksi >> laki-laki
CONTOH KASUS:
1 Dari 5 ABG Putri Alami Kekerasan Seksual Saat Pacaran
Jakarta - Kekerasan seksual di kalangan remaja atau ABG sangat memprihatinkan. 1 Dari 5 remaja putri mengalami kekerasan seksual saat berpacaran atau dating violence.
"Harus diwaspadai adanya kekerasan di masa pacaran atau dating violence. Satu dari 5 remaja putri di Indonesia pernah mengalami kekerasan dalam masa berpacaran.
Dating violence banyak terjadi karena remaja yang kecanduan pornografi. Kecanduan itu, menyebabkan pemaksaan pada remaja perempuan agar mau berhubungan intim. "Pelaku akan melakukan pemaksaan dan pelecehan secara verbal atau pun fisik dengan memperlihatkan gambar porno," Berdasarkan toptenreveiw.com Indonesia masuk nomor 7 dari 10 peringkat dunia negara pengakses pornografi. Dari survey itu, di tahun 2006 berkembang 100 ribu situs bermaterikan pornogrofi anak yakni usia 18 tahun ke bawah.
Data itu menyebutkan 89 persen chating anak muda berkonotasi seksual. Rata-rata pengaksesnya berusia 11 tahun.
Sedangkan 80 persennya berusia 15-75 tahun telah biasa mengakses pornografi hardcore atau adegan hubungan intim yang memperlihatkan alat vital. "Yang lebih parah lagi data tersebut menyebutkan 90 persen akses pornografi dilakukan saat belajar dan melakukan tugas bersama,"
Mahasiswi cabuli bocah smp, kasus unik dan Mengherankan
• Jakarta - Selama ini yang selalu menjadi korban pencabulan atau kekerasan seksual adalah perempuan. Karena itu, Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) Seto Mulyadi mengaku agak heran dan menganggap unik kasus mahasiswi FM (19) di Bandung yang mencabuli JS (13) sehingga membuat dirinya hamil.
"Ini unik. Ini kasus baru bagi kita,"
FM, mahasiswi sebuah perguruan tinggi swasta di Bandung, mencabuli JS sejak tahun 2003. Saat itu, usia FM 19 tahun dan JS 13 tahun. Selama berkali-kali FM mencabuli JS sampai berhubungan badan. Akhirnya, FM pun hamil. Desember 2005 lalu, FM melahirkan anaknya dan dia menyatakan ayah anaknya adalah JS.
Keluarga JS tidak terima dengan kasus ini dan menuding FM melakukan tindakan pencabulan. Kasus ini akhirnya dilaporkan ke polisi. Dalam waktu dekat, kasus ini akan disidangkan.
Perlakuan yang tidak adil Seorang ibu di india dengan Dua anak kembarnya.
Anak laki-laki disusui oleh ibunya (diberi ASI), sedangkan anak berjenis kelamin perempuan diberi susu botol.
Mengapa demikian?
KITAB WULANGREH
Ajaran khusus untuk perempuan dalam Serat Centhini Rancangkapti (Kias Lima Jari Tangan)
• Jempol (ibu jari) berarti “Pol ing tyas”, sebagai istri harus berserah diri sepenuhnya kepada suami
• Penuduh (telunjuk), berarti jangan sekali-kali berani mematahkan “tudung kakung”
• Panunggul (jari tengah), berarti selalu “meluhurkan” (mengunggulkan) suami dan menjaga martabat
suami
• Jari manis, berarti tetap manis mukanya dalam malayani suami dan bila suami menghendaki sesuatu
• Jejentik (kelingking), berarti istri harus selalu “athakithikan” (terampil dan banyak akal) dalam
semua pekerjaan melayani suami
Defisit Perempuan Di India
• Ungkapan bahwa anak laki-laki dan perempuan sama saja, benar-benar tidak berlaku bagi masyarakat India. Bahkan akibat tradisi memilih anak laki-laki, sekitar 10 juta janin perempuan diperkirakan telah digugurkan di negeri Sungai Gangga itu selama dua dekade terakhir.
Demikian menurut sebuah studi yang diterbitkan oleh The Lancet, jurnal medis yang berbasis di London, Inggris seperti diberitakan AFP, Senin (9/1/2006).
Teks Lagu Tentang Gender:
SABDA ALAM
Diciptakan alam pria dan wanita
Dua makhluk dalam asuhan dewata
Ditakdirkan bahwa pria berkuasa
Adapun wanita lemah. Lembut dan manja
Wanita dijajah pria sejak dulu
Dijadikan perhiasan sangkar madu
Namun ada kala pria tak berdaya
Tekuk lutut di sudut kerling wanita
HATI YANG LUKA
Berulang kali aku mencoba selalu untuk mengalah
Demi keutuhan kita berdua walau kadang sakit
Lihatlah tanda merah di pipi bekas tapak tanganmu
Sering kau lakukan bila kau marah menutupi salahmu
Samakah aku, bagai burung disangkar yang dijual orang
Hingga sesukamu kau lakukan itu, kau sakiti hatiku
Dulu segenggam emas kau pinang aku
Dulu bersumpah janji di depan saksi
Tapi semua hilanglah sudah ditelan duka
Tapi semua hilanglah sudah hati yang luka
Kalaulah memang kita berpisah, itu bukan suratan
Mungkin itu lebih baik, agar kau puas mengikuti salahmu
Pulang saja aku pada ibuku atau ayahku













